Minggu-minggu ini aku belajar software ArcView GIS di BMKG tempat aku pkl
nah, aku masih pemula nih, jadi aku masih browsing informasi tentang ArcView ini
lalu apa bedanya ArcView sama ArcGIS ya? berikut ini penjelasannya:
ArcView
ArcView dalam operasinya menggunakan, membaca dan mengolah data dalam format Shapefile, selain itu ArcView jaga dapat memanggil data-data dengan format BSQ, BIL, BIP, JPEG, TIFF, BMP, GeoTIFF atau data grid yang berasal dari ARC/INFO serta banyak lagi data-data lainnya. Setiap data spasial yang dipanggil akan tampak sebagai sebuah Theme dan gabungan dari theme-theme ini akan tampil dalam sebuah view. ArcView mengorganisasikan komponen-komponen programnya (view, theme, table, chart, layout dan script) dalam sebuah project. Project merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam ArcView.
Salah satu kelebihan dari ArcView adalah kemampuannya berhubungan dan berkerja dengan bantuan extensions. Extensions (dalam konteks perangkat lunak SIG ArcView) merupakan suatu perangkat lunak yang bersifat “plug-in” dan dapat diaktifkan ketika penggunanya memerlukan kemampuan fungsionalitas tambahan (Prahasta). Extensions bekerja atau berperan sebagai perangkat lunak yang dapat dibuat sendiri, telah ada atau dimasukkan (di-instal) ke dalam perangkat lunak ArcView untuk memperluas kemampuan-kemampuan kerja dari ArcView itu sendiri. Contoh-contoh extensions ini seperti Spasial Analyst, Edit Tools v3.1, Geoprocessing, JPGE (JFIF) Image Support, Legend Tool, Projection Utility Wizard, Register and Transform Tool dan XTools Extensions.
ArcGIS
Rabu, 10 September 2014
Sabtu, 14 Juni 2014
Sabtu, 15 Maret 2014
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peledakan
1. JENIS BATUAN
Secara umum, jenis batuan dibedakan atas 3 bagian yaitu :
Jenis batuan perlu diketahui terlebih dahulu, agar dapat ditentukan jenis bahan peledak apa yang sesuai untuk peledakan, dan metode mana yang akan diterapkan sehingga hasilnya cocok dengan perencanaan dengan hasil yang maksimal. Misalnya batuan beku umumnya lebih keras jika dibanding dengan batuan sedimen atau batuan metamorf, sehingga untuk peledakan batuan beku akan menggunakan bahan peledak dengan detonasi tinggi dalam hal ini menggunakan jenis bahan peledak High Explosive, sedang untuk batuan sedimen bisa hanya dengan menggunakan bahan peledak Low Explosive.
2. DENSITY BATUAN
Density batuan adalah perbandingan
antara berat (gram) dengan volume (cc).
Density batuan merupakan faktor yang mempengaruhi peledakan karena batuan dengan berat jenis yang lebih tinggi biasanya memerlukan faktor energi yang lebih tinggi untuk menghasilkan fragmentasi yang optimum kecuali jika batuan tersebut dalam keadaan berlapis – lapis dan bersambung dengan baik.
3. KEKUATAN BATUAN
Density batuan merupakan faktor yang mempengaruhi peledakan karena batuan dengan berat jenis yang lebih tinggi biasanya memerlukan faktor energi yang lebih tinggi untuk menghasilkan fragmentasi yang optimum kecuali jika batuan tersebut dalam keadaan berlapis – lapis dan bersambung dengan baik.
3. KEKUATAN BATUAN
Kekuatan batuan adalah sifat mekanik dari batuan, yaitu kemampuan batuan untuk mempertahankan diri terhadap tekanan maupun tarikan. Kekuatan batuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peledakan karena semakin besar kekuatan batuan, maka untuk memecahkan atau membongkar batuan tersebut juga akan membutuhkan tekanan yang besar pula, dalam hal ini harus disesuaikan dengan jenis bahan peledak yang akan digunakan.
4. STRUKTUR
BATUAN
Struktur batuan yang dimaksud
adalah berupa adanya perlapisan, retakan, serta rongga-rongga yang terdapat
pada batuan.
Struktur batuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peledakan, misalnya pada batuan berlapis dengan kohesi terbatas dapat bergeser sehingga menyebabkan patahnya bahan peledak. Batuan yang mempunyai banyak retakan, secara umum memerlukan energi peledakan yang relative lebih sedikit untuk mendapatkan fragmentasi yang baik, namun banyaknya rekahan serta rongga-rongga pada batuan menyebabkan terjadinya fly rock (batuan melayang), ledakan udara (airblast) serta getaran yang hebat.
5. JENIS BAHAN PELEDAK
Struktur batuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi peledakan, misalnya pada batuan berlapis dengan kohesi terbatas dapat bergeser sehingga menyebabkan patahnya bahan peledak. Batuan yang mempunyai banyak retakan, secara umum memerlukan energi peledakan yang relative lebih sedikit untuk mendapatkan fragmentasi yang baik, namun banyaknya rekahan serta rongga-rongga pada batuan menyebabkan terjadinya fly rock (batuan melayang), ledakan udara (airblast) serta getaran yang hebat.
5. JENIS BAHAN PELEDAK
Bahan peledak adalah bahan senyawa kimia tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, gas atau campuran yang apabila dikenai suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi dengan kecepatan tinggi, hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas dan disertai panas dan bertekanan yang sangat tinggi.
Jenis bahan peledak secara garis besar (berdasarkan sumber energinya) dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan (J.J Manon, 1976), yaitu:
1. Bahan peledak mekanis (mechanical explosives)
2. Bahan peledak kimia (chemical explosives)
3. Bahan peledak nuklir (nuclear explosives)
Namun juga yang membedakan jenis bahan peledak berdasarkan lapangan penggunaannya, yaitu:
- Bahan peledak militer, yaitu untuk kepentingan militer,
- Bahan peledak komersial/industry, yaitu untuk pekerjaan-pekerjaan sipil, tambang dan sebagainya.
Dari ketiga bahan peledak di atas, yang umum digunakan sebagai bahan peledak industry ialah golongan bahan peledak kimia
- Bahan peledak komersial/industry, yaitu untuk pekerjaan-pekerjaan sipil, tambang dan sebagainya.
Dari ketiga bahan peledak di atas, yang umum digunakan sebagai bahan peledak industry ialah golongan bahan peledak kimia
Berdasarkan kecepatan perambatan reaksinya, bahan
peledak kimia dapat dibagi menjadi dua jenis (menurut R. L. Ash, 1962), yaitu:
a. Low Explosive : adalah bahan peledak yang kecepatan perambatan reaksinya rendah, ummnya lebih kecil dari 1.000 m/sec. Contoh : Black Powder, Propellant, Puroteknik. Peristiwa perambatan reaksinya disebut pembakaran sangat lambat dan deflagrasi (agak cepat).
b. High Explosive : adalah bahan peledak yang kecepatan perambatan reaksinya tinggi umumnya lebih besar dari 1.500 m/sec. Contoh : Dinamit, TNT, PETN. Peristiwa perambatan reaksinya disebut peledakan.
Jenis bahan peledak marupakan
faktor yang mempengaruhi peledakan karena pemakaian bahan peledak harus
disesuaikan dengan kondisi batuan yang akan diledakkan. Hal ini juga akan
berkaitan dengan biaya yang digunakan, karena jenis bahan peledak High
Explosive akan lebih mahal jika dibanding dengan jenis bahan peledak Low
Explosive.
Misalnya untuk batuan yang keras dengan batuan yang lunak; jenis bahan peledak yang digunakan akan berbeda, yakni untuk batuan yang lebih keras akan menggunakan bahan peledak jenis High Explosive, sedangkan untuk batuan lunak bisa hanya dengan menggunakan bahan peledak Low Explosive dengan biaya yang lebih rendah dari pada menggunakan bahan peledak jenis High Explosive yang akan lebih mahal. Selain itu, untuk batuan lunak jika menggunakan bahan peledak jenis High Explosive, akan menyebabkan terjadinya fly rock (batuan melayang).
Misalnya untuk batuan yang keras dengan batuan yang lunak; jenis bahan peledak yang digunakan akan berbeda, yakni untuk batuan yang lebih keras akan menggunakan bahan peledak jenis High Explosive, sedangkan untuk batuan lunak bisa hanya dengan menggunakan bahan peledak Low Explosive dengan biaya yang lebih rendah dari pada menggunakan bahan peledak jenis High Explosive yang akan lebih mahal. Selain itu, untuk batuan lunak jika menggunakan bahan peledak jenis High Explosive, akan menyebabkan terjadinya fly rock (batuan melayang).
6. CARA/TEKNIK PELEDAKAN
Salah satu aspek pendukung keberhasilan operasi peledakan adalah pengetahuan tentang cara/teknik peledakan, meskipun harus diakui bahwa faktor pengalaman sangat penting artinya. Cara/tenik yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan peledakan meliputi :
·
Pemeriksaan lubang ledak (memeriksa kedalaman,
memeriksa adanya hambatan berupa penyumbat lubang, memeriksa air, dan memeriksa
rongga dan retakan).
·
Pengisian lubang ledak (pengisian primer, penngisian
“isian utama, dan pengisian penyumbat (stemming)).
·
Penyambungan rangkaian (rangkaian sumbu api, rangkaian
listrik (seri, paralel, parallel seri), rangkaian sumbe ledak, rangkaian
nonel).
Dari setiap pekerjaan di atas perlu cara-cara dan teknik yang tepat untuk
mendapatkan hasil peledakan sesuai dengan yang direncanakan. Karena jika terjadi
kesalahan, akan menimbulkan kerugian baik berupa biaya maupun tenaga, misalnya
kemungkinan terjadinya gagal ledak (mis fire), terjadinya fly rock (batuan
melayang), ledakan udara (airblast) serta getaran yang hebat yang akan
mengganggu lingkungan sekitar. Dalam mencari cara-cara dan teknik yang tepat
maka ditentukan lah standar kompetensi / kriteria untuk kerja.
Standar
kompetensi/elemen kompetensi dan kriteria unjuk kerja seperti pada tabel
berikut ini.
|
Elemen kompetensi
|
Kriteria unjuk kerja
|
||
|
1
|
Menyiapkan titik-titik lubang ledak dan geometri peledakan
|
1.1
|
Diameter, kedalam dan
kemiringan lubang ledak, spasi dan burden serta pola pengeboran dijelaskan ke
juru bor
|
|
|
|
1.2
|
Bentuk cut pada peledakan tambang
bawah tanah atau terowongan dijelaskan ke juru bor
|
|
1.3
|
Lubang-lubang untuk peledakan
khusus dijelaskan
|
||
|
1.4
|
Jumlah produksi peledakan dan
bahan peledak dihitung dan Powder
Factor (PF) ditentukan (kg/m3 atau kg/ton).
|
||
|
2
|
Melakukan peledakan
|
2.1
|
Beberapa menit menjelang peledakan:
a.
Bila
menggunakan sumbu api, sumbu api dinyalakan.
b.
Bila
menggunakan blasting machine (BM),
kabel utama (lead wire) dihubungkan
ke BM dan inisiasi dilakukan sesuai prosedur dari pabrik pembuatnya.
c.
Bila
menggunakan shotgun, sumbu utama
nonel dihubungkan ke shotgun dan
inisiasi dilakukan sesuai prosedur dari pabrik pembuatnya
|
|
2.2.
|
Peledakan dilaksanakan
|
||
|
2.3.
|
Hasil peledakan diperiksa dan dilaporkan
|
||
|
3
|
Memeriksa lubang-lubang yang telah diledakkan
|
3.1.
|
Kabel listrik atau sumbu ledak dari setiap
lubang ledak diperiksa.
|
|
3.2
|
Fragmentasi hasil peledakan diperiksa dan
dilapor-kan ke pengelola peledakan.
|
||
|
3.3
|
Jarak batu terbang (flying rock) diukur dan dilaporkan
|
||
|
4
|
Mengatasi gagal ledak ( misfire )
|
4.1.
|
Daerah peledakan dibatasi dan pita pengaman
dipasang.
|
|
4.2.
|
Seluruh sambungan kabel listrik atau sumbu dari
setiap lubang ledak diperiksa.
|
||
|
4.3.
|
Prosedur
penanganan gagal ledak dilaksanakan.
|
||
|
5
|
Melakukan
peledakan sekunder (secondary blasting)
|
5.1.
|
Bongkahan batu besar (boulders) hasil peledakan dipisahkan.
|
|
5.2.
|
Jumlah bongkahan batu besar yang akan
diledakkan ulang dihitung dan volumenya ditaksir.
|
||
|
5.3.
|
Peledakan
sekunder (secondary blasting)
terhadap bongkahan batu besar dilaksanakan.
|
||

