kejadiannya berlangsung sangat dramatis sekali (T.T) sekaligus miris.
Saat perjalanan pulang dari lapangan Denggung menuju rumah, tepatnya di jalan Turi-Sleman (arah ke utara menuju Turi dari Jalan Magelang) terjadi percakapan antara adik saya dengan orang asing (Ibu paruh baya sekitar umur 35th-an yang berboncengan dengan suaminya dan sedang mengendarai motor yamaha fixion putih). Cuaca saat itu adalah gerimis-sedang-agak deres.
--Ibu paruh baya sebagai: Akar
--Suami Ibu"nya sebagai: Duri
--Adik Saya sebagai: Bunga
--dan Saya sebagai: Melati
(hehe.. )
Akar : "Dek, dek.. tahu arah Turi ke mana??"
Bunga : "Iya, tahu buk, lurus aja terus"
Akar : "Dek, bisa minggir sebentar?"
Lalu seketika itu, Ibu paruh baya (sebut saja Akar) beserta suaminya (Duri) menyalip saya dari arah kanan dan menghentikan motornya di pinggir jalan. Saya yang bingung dengar percakapan adek saya dengan Akar dan tidak tahu apa-apa lalu menghentikan motor di pinggir jalan mengikuti Akar yang bersanding dengan motornya. Kemudian Akar turun dari fixion-nya dan terjadi percakapan dengan saya kurang lebih seperti di bawah ini:
Akar : "Maaf dek, ini saya sama suami dari Purwokerto, mau tanya arah ke Turi ke mana. Katanya
dari Sleman belok masuk gitu, tapi kami tidak tahu arah. Kebetulan mau ketemuan sama
bapak X di Turi. Di sini ada wartel tidak ya dek?"
Melati : (masih dalam keadaan bengong melihat Akar)
Akar : "Sudah tidak ada wartel ya dek?"
Melati : "Oh iya bu... sekarang mah jarang ada wartel, Mungkin sudah punah"
Akar : "Oh begitu... Tadi kan kami perjalanan dari Purwokerto ke sini ada kecelakaan sedikit dek,
jadi hape saya jatuh di jalan lalu layar kacanya pecah.. jadi tidak bisa buat ngehubungi"
Melati : (merasa si Akar mengkode-kan diri kepada saya untuk meminjamkan hape... Dan akhirnya
saya meminjamkan hape). Mau pake hape saya dulu bu?
Akar : "O..iya, gakpapa dek?"
Melati : "Iya bu" (lalu seketika ingat kalo hape busuk saya (nokia jadul) sudah tidak memiliki saldo
pulsa, lalu saya pun tanya ke adik saya)
Melati : "Del, hapemu ono pulsane oraa??"
Bunga : "Ono mbak, sek tak tilik i. Ada 9000 mbak pulsane.
Melati : "Nah, Ibuk e dipinjemi dulu" (lalu adek saya mengambil hapenya (Oppo R-)
Akar : "Oya, makasih dek, bentar ya"
Beberapa saat kemudian, Akar memencet tombol (kayaknya sih dipencet) dan menghubungi seseorang.
Melati : (Memperhatikan Ibuknya yang sedang telepon, tapi tiba-tiba suami ibuknya mengajak
ngobrol)
Duri : "Adeknya kuliah?"
Melati : "Iya pak, kuliah di Jogja"
Duri : "Adeknya asli orang sini?"
Melati : "Nggih pak, kebetulan rumah saya di Turi"
Duri : "O..begitu, daerah sini tu perumahan semua?"
Melati : "Tidak pak, di sini pemukiman penduduknya masih asri, belum ada perumahan-perumahan
seperti di kota-kota. Bapaknya asli dari Purwokerto?"
Duri : "Iya dek. Ini kalau lurus terus ketemu lampu bangjo ya dek?"
...................................bla...bla...blaa... (Bapaknya mencoba basa basi sampai Ibuknya ngomong..)
Akar : "Dek, adek asli sini kan? Kalo boleh saya minta tolong bisa tidak dianterin ke Turi. Terus
katanya ada pondok pesantren gitu, nah saya tolong diantarkan sampai pondok
pesantrennya"
Melati : "Pondok pesantren apa ya bu?? Oh itu bukan yang Insan Cendekia yang berasrama itu
buk?"
...(Ibuknya tidak menjawab dan saya langsung mengerti)
Melati : "Oya bu, bisa (sambil melihat ibunya masih memegang telepon ditelinganya yang
menunjukkan kalau teleponnya masih berlangsung"
Akar : "Adek di depan ya, kami ikuti di belakang" (sambil masih bercakap cakap dengan orang
yang diteleponnya)
Melati : "Iya bu, silakan. (ada niatan untuk mengambil hape-nya tetapi tidak jadi -_-)"
Lalu saya pun bergegas dan mengikuti arahan ibuknya. Sepanjang perjalanan, Bapak dan Ibuknya selalu bersanding dengan motorku. Lalu selang beberapa saat saya mendengar percakapan (tidak begitu jelas) antara adik saya dengan Ibuknya (yang masih memegang HP adik saya).
Adik saya lalu bilang ke saya untuk cepat karena hujan semakin lebat. Saya manut gitu-gitu aja.
Pas melewati Dusun Kadisobo (dekat Klinik Swa) saya melihat spion dan menyadari "Kok bapakke ilang???" Saya pun langsung balik arah dan menyusul bapak-ibuknya (mungkin berhenti di jalan karena hujan semakin deras)
Di situ saya langsung menyadari bahwa HP Oppo adik saya telah di-maling Ibuk-ibuk paruh baya beserta suaminya yang sedang mengendarai fixion putih (dan saya tidak punya pikiran untuk melihat plat nomornya -_-)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BANYAK SEKALI PELAJARAN DAN HIKMAH YANG DAPAT SAYA PETIK DARI PENGALAMAN INI.
DI TENGAH HUJAN (PERJALANAN PULANG KE RUMAH) SAYA BERDOA SEMOGA MEREKA SADAR, DIBUKAKAN PINTU HATINYA.
(ealah pak, buk, selamat ber-malmingan dengan hape hasil maling-an, semoga hape-nya membawa berkah *dengan mata berkaca-kaca*)
