(How Not to Get Lost in Techno World)
Rasanya susah banget ngerjain tugas tanpa
ngelirik smartphone atau TV. Akhirnya
tugas kita jadi lama banget selesainya! What happened?
ATTENTION SPAN
Berapa lama kita bisa baca majalah tanpa
kedistraksi Twitter?
Kemampuan
buat memfokuskan diri pada sesuatu tanpa kedistraksi disebut attention span.
Semua orang punya tingkat attention span
masing-masing. Waktu bayi, attention span
kita terbatas beberapa detik dan terus ningkat 15-20 menit di usia remaja akhir
atau menjelang dewasa. Penelitian ilmiah nunjukkinkalo smartphone, TV, internet,
socmed, sampe “ngubah” otak makin
susah fokus ke satu hal dalam waktu lama. Menurut Lloyds TSB Insurance, attention span orang modern cuma nyampe 5
menit. Browsing internet lebih parah!
Menurut statistik di Associated Press, attention span kita turun dari 12 detik di
tahun 2000 jadi 8 detik di 2012! Ironically,
it’seven a second blower than attention span of a goldfish!
HOW DID IT COME TO THIS?
Perhatikan tanda-tanda khususnya:
1.
Kemampuan dengerin orang menurun,
nggak inget apa yang diomongi sebelumnya.
2.
Nggak bisa ngikutin instruksi
secara akurat.
3.
Lupa apa yang baru aja kita baca.
4.
Pikiran sering ke mana-mana pas
ngerjain sesuatu.
5.
Nggak bisa fokus ngerjain hal yang
mentally effort.
Michael
Merzenich,
pionir di bidang neuroplasticity,
bilang bahwa ketika kita beradaptasi ke fenomena budaya baru, termasuk
penggunaan medium baru, we end up with different brain system.
And in this techno world, our brain is indeed wired differently. Dewasa ini, otak kita dikondisiin buat
nerima banyak banget informasi dari segala arah pada satu waktu. Untuk
adaptasi, cara otak kita kerja jadi berubah. Kita harus terus loncat dari satu
informasi ke informasi lain, dan harus bisa nyerep dengan cepet. Ini yang bikin kita jadi ngabisin waktu lebih
sedikit buat fokus ke satu hal. Nicholas Carr, penulis ‘The Shallows: What the
Internet is Doing to Our Brains’, bilang bahwa ini juga bikin kita kebiasa buat
baca cuma sekilas dengan pikiran yang kedistraksi ke mana-mana. Otak kita
akhirnya malah ‘minta’ diinterupsi terus-terusan sama internet dan
teknologi di sekitar. Alasannya simpel;
kita ngerasa dapet sesuatu dengan semua interupsi itu. Setiap kita buka messenger atau tweet baru, atau baca berita baru, kita ngerasa dapet informasi yang “berguna”. Kita jadi ngerasa, notifikasi apapun harus kita baca saat itu juga, yang malah bikin otak nggak fokus. Ini diperparah kalau kita ngegunain teknologi dengan cara multitasking, misalnya nelpon sambil nonton TV, yang menurut penelitian di Stanford University, bikin kemampuan konsentrasi orang nurun banget. Tapi, teknologi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi lamanya kita bisa konsentrasi sama satu hal. Kelelahan, stres, efek samping obat, atau penyakit ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) juga mungkin bisa jadi faktor yang mempengaruhi atensi.
THE DAMAGE
Sebenernya pada dasarnya, atensi itu emang sifatnya dinamis, bisa terus berubah sesuai kebutuhan kita. Tapi pas terlalu banyak pindah atensi, hal yang paling kepengaruh adalah penyimpanan informasi itu sendiri. Nggak jarang para pengguna internet ngelaporin kalo mereka nggak inget apa yang dibaca selama browsing. Ini karena setiap kali atensi kita berpindah, konsentrasi kita buyar dan otak kita harus orientasi lagi dari awal. Otak punya kapasitas tertentu untuk nyimpen ‘data’, dan informasi yang datang pergi dengan terlalu cepat dan terus terdistraksi, akhirnya malah nggak ngerti sama informasinya, bahkan berpotensi salah interpretasiin informasi. Makanya, penting banget untuk batesin jumlah hal yang kita baca/lakuin di satu waktu, just to make sure we get it right. Hal lain yang dipengaruhin sama pendeknya atensi kita, apalagi kalo multitasking, adalah nggak efisiennya hal-hal yang kita kerjain. Energi mental yang harusnya bisa diarahkan ke satu hal, jadinya pindah ke sana ke mari hanya karena kita kedistraksi atau berusaha ngerjain dua hal dalam satu waktu.
HOW TO MANAGE ATTENTION SPAN
Matiin gadget sebelum ngerjain tugas.
Pasang timer buat target berapa lama fokus ke suatu tugas.
Setelah fokus, ambil break 2 menit untuk istirahatkan otak.
Starts slow. Like muscle, we need to train our brain first.
Stop clicking random things when research on something.
Try to read a book, karena infonya terpusat ke satu topik.
Setiap berhasil nggak terdistraksi, give yourself a reward.
(sumber: Majalah Gogirl bulan Oktober 2013, hal 76-77.)
